Kritik Seni Pada Karya Berjudul Balimau Oleh Marten Agung Laksono
Main Article Content
Rifaldi
Penelitian ini bertujuan mengkaji karya kriya logam Balimau karya Marten Agung Laksono melalui pendekatan kritik seni untuk mengungkap aspek visual, makna simbolik, serta posisi karya dalam perkembangan kriya logam kontemporer. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kritik seni Edmund Feldman yang meliputi tahapan deskripsi, analisis formal, interpretasi, dan evaluasi, data penelitian ini diperoleh melalui pengamatan visual karya, studi pustaka, serta analisis kontekstual terhadap latar budaya yang melatarbelakangi penciptaan karya. Melalui tahapan analisis formal, diketahui bahwa karya Balimau yang merupakan kriya logam dua dimensi berbentuk relief panel ini mengolah unsur garis, bidang, tekstur, cahaya, serta komposisi tripartit secara harmonis guna membangun keseimbangan visual yang dinamis dalam mengangkat nilai budaya masyarakat Minangkabau melalui visualisasi Tradisi Balimau Kasai, Bakaba, dan Rarak Kalikih. Di sisi lain, interpretasi semiotik menggunakan teori Charles Sanders Peirce dan Roland Barthes menunjukkan bahwa karya ini berfungsi sebagai sistem tanda yang memuat makna ikon, indeks, dan simbol terkait ritual penyucian diri serta nilai spiritual masyarakat Minangkabau. Melalui evaluasi komparatif dengan karya kriya logam lain, ditegaskan pula bahwa Balimau memiliki kekuatan pada narasi budaya, simbolisme sosial, dan integrasi fungsi estetis dengan nilai tradisi lokal. Secara keseluruhan, temuan penelitian ini menegaskan bahwa kriya logam tidak hanya berfungsi sebagai objek dekoratif, melainkan juga eksis sebagai medium representasi identitas budaya dan artikulasi nilai sosial melalui bahasa visual kontemporer yang kuat.
Amin Pitaya, M. (2014). Catharsis: Journal of Arts Education TINJAUAN SEMIOTIKA KONG CO PADA KELENTENG GIE YONG BIO LASEM Info Artikel. 33(2), 33–39. https://doi.org/10.15294
Andono, & Rispul. (2016). EKSPLORASI DAN EKSPERIMENTASI DALAM KARYA SENI KRIYA KONTEMPORER. CORAK, 5(1). https://doi.org/10.24821
Anita Kurnia Rahman,Astria Prameswari, dkk. (2023). Filsafat Bahasa dan Sastra dalam berbagai perspektif.
Ariesa, P., Sigit, P., Belinda Sukapura, D., Nuning, D., & Arleti, M. (2021). Visualisasi Cerita Rakyat: Figur Perempuan dalam Karya Seni Batik Kontemporer. Panggung, 31(4), 537–548. https://jurnal.isbi.ac.id/index.php/panggung/article/view/1932/manual/PanduanOJS.pdf
Ayu, T. S. (2021). UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta. Reimajenasi Timbre: Nostalgia Bunyi Melalui Komposisi Musik, 3(1210620032), 1–16. http://digilib.isi.ac.id/id/eprint/8497
Nofiyanti, N., & Agusti, E. (2022). Kritik seni dan fungsi melakukan kritik seni. Gorga: Jurnal Seni Rupa. Jurnal Seni Rupa, 11, 2022. https://doi.org/10.24114
Wibisono, P., & Sari, D. Y. (2021). ANALISIS SEMIOTIKA ROLAWibisono, Panji, and Dan Yunita Sari. “ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES DALAM FILM BINTANG KETJIL KARYA WIM UMBOH DAN MISBACH YUSA BIRA.” Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi 1, no. 1 (2021): 30–43.ND BARTHES DALAM FILM BINTANG KETJIL K. Jurnal Dinamika Ilmu Komunikasi, 1(1), 30–43.
Zhang, S. (2017). Meaning-Centrism in Roland Barthes’ Structuralism. Chinese Semiotic Studies, 13(3), 219–227. https://doi.org/10.1515/css-2017-0012
Kartika, D. S. (2004). Seni rupa modern. Rekayasa Sains.













