Qirâ’ât Syâdzdzah Sebagai H̲ujjah Hukum Fiqih Ibadah Dalam Tafsîr Al-Kasysyâf Karya Al-Zamakhsyari
Main Article Content
Hendra Ahmadi
Nurbaiti
Zakaria Husin Lubis
Qirâ’ât Syâdzdzah Sebagai H̲ujjah Hukum Fiqih Ibadah, apakah Qiraat ini bisa dijadikan sebagai hujjah hukum fiqih ibadah ?, hal ini yang menjadi salah satu topik pembahasan yang dimana terdapat perbedaan pendapat dari beberapa ulama, diantaranya Abu Hanifah mendukung qirâ’ât syâdzdzah untuk dijadikan istinbâth hukum. Ia berpendapat bahwa qirâ’ât syâdzdzah kendati periwayatannya tidak mutawatir namun ia diriwayatkan langsung dari Nabi oleh para sahabat, hanya saja periwayatan tersebut bersifat ahad (perorangan). juga terdapat perbedaan dengan pendapat Malikiyyah dan Syafi’iyyah bahwa qirâ’ât syâdzdzah tidak bisa dijadikan istinbâth hukum. Mereka berdua berpendapat bahwa qirâ’ât syâdzdzah bukanlah Al-Qur’an dan tidak dapat dijadikan sebagai h̲ujjah. Selain itu, qir̂a’ât syadzah juga sudah di-nasakh atau telah dihapuskan sejak masa hidup Rasulullah. Hal penting yang menjadi objek penafsiran disini adalah fiqih ibadah. Umat Islam tidak bisa lepas dari ajaran syariatnya, salah satunya adalah hukum fiqih. Fiqih menjadi urgen karena berkaitan dengan metode beribadah, cara, interaksi sosial, dan masih banyak lainya. Seringkali terjadi perseteruan antara pemeluk agama dan internal agama diawali dari adanya perbedaan penafisiran atas dalil yang mereka fahami. Selanjutnya, dalam penelitian ini penulis mengaplikasikan metode kualitatif dengan studi kepustakaan (library research) dengan menggunakan analisis isi dan juga observasi. Sumber primer yang digunakan adalah Tafsîr Al-Kasysyâf karya Al-Zamakhsyarî beserta karya-karya beliau yang lain. Adapun sumber sekunder yaitu buku-buku yang berkaitan erat dengan qirâ’ât syâdzdzah dan fiqih ibadah.
‘Abd al-Azim al-Zarqani, Muhammad, Manâhil Al-‘Irfân fî ‘Ulûm Al-Qur’ân Juz II Mesir: Mustafa Bab al-Halabi, t.th, hal. 8.
Abd al-Rauf al-Singkili, Turjuman al-Mustafid, Jil. I, Jakarta: Raja Publishing: 2014, hal. 109.
Ahmad ibn Hazm, Al-Ih̲kâm fî Ushûl Al-Ahkâm Juz I, Beirut Dâr al-Ahqâf al-Jadîdah, 1400 H, hal. 170-171.
Ali Ma’shum dan Zainal Abidin Munawwir, Al-Munawwir Kamus Arab – Indonesia, Surabaya: Pustaka Progresif, 1997, hal. 792.
Al-Zamakhsyari, Tafsîr Al-Kasysyâf ‘An H̲aqâ’iq Ghawâmid Al-Tanzîl Wa ‘Uyûn Al- Aqâwil Fi Wujûh Al- Ta’wîl, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, 2009, hal. 280.
Az Zarkasyi , Al Burhan Fi ulumil Qur'an(Kairo, Darul Hadits,2006 ) hlm. 222
Azhari Mulyana, “pengertian ilmu qiraat menurut para”,dalam https://blogspot.com/2016/02/pengertian-ilmu-qiraat-menurut-para.html.Diakses pada 22 Oktober 2024.
Az-Zuhaili, Wahbah, Fiqh Islâm Wa Adillatuhû Jilid 1 terj. Abdul Hayyie alKattani, Jakarta: Gema Insani, 2010, hal. 541.
Kusumawardani, Diah “Makna Wudhu dalam Kehidupan menurut Al-Qur’an dan Hadis,” dalam Jurnal Riset Agama, Vol. 1 No. 1 Tahun 2021, hal. 110.
Faizah Ali Syibromalisi, "Pengaruh Qira’at Terhadap Penafsiran", dalam Jurnal Alfanar: Jurnal Al-Qur'an Dan Hadits, Vol. 5 No. 2 Tahun 2011, hal. 13.
Fathul A. Aziz, “Fiqih Ibadah Versus Fiqih Muamalah,” dalam Jurnal El-Jizya: Jurnal Ekonomi Islam, Vol. 7 No. 2 Tahun 2019, hal. 238.
Fauzi, “Elaborasi Wudhu dalam Perspektif Lawn Tafsîr al-Aẖkâm: Kajian Pemahaman terhadap QS. Al-Maidah Ayat 6,” dalam Jurnal Tafse: Journal of Qur'anic Studies, Vol. 6 No. 2 Tahun 2021, hal. 260-261.
Hasanuddin, Perbedaan Qirâ’at: dan Pengaruhnya Terhadap Istinbâth Hukum dalam Al-Qur’an, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1995, hal. 144.
Husin Lubis, Zakaria, “Hermeneutics Of The Holy Religion Texts (The Study of the Relationship of the Qur'anic Text to Religious Life),” dalam Jurnal Mumtaz: Jurnal Studi Al-Quran dan Keislaman, Vol. 4 No. 01 Tahun 2020, hal. 86-102.
Jinni Ibn, Al-Muh̲tasab fî Tabyîni Wujûhi Shawâdh Al-Qirâ’ât wa Al-Îdhâh̲ ‘Anhâ Juz I Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1971, hal. 38.
Ibrahim ‘Abd Allah Rafidah, Al-Nahwa wa Kutub al-Tafsîr t.ttp: Dâr Al-Jamâhiriyah, 1990, hal. 128.
Jamal Khairunnas dan Afriadi Putra, Pengantar Ilmu Qira’at, Yogyakarta: Kalimedia, 2020, hal. 1.
Lihat Ibnu Manzhur, Lisanul Arab, Vol.1(Darul ma'ariif Kairo,tanpa tahun) h.3563
M. Fadli Suhendra, Fiqh Ibadah Wanita, Jakarta: Sinar Grafika,2011, Cet. 1, hal. 307.
Mani’ Abd Halim Mahmud, Metodologi Tafsir: Kajian Komprehensif Metode Para Ahli Tafsir, Jakarta: Raja Grafindo, 2003, hal. 224.
Ali Al-Shabuni Muhammad, Al-Tibyan fi‟ulum Al-qur‟an. Maktabah Al Ghazali,Damaskus, 1390. hlm, 223.
Husain Muhammad al-Dhahabi, Al-Tafsîr wa Al-Mufassirûn Juz I, t.tp.,: Maktabah Wahbah, t.th., hal. 304.
Nur al-Din ‘Itr, ‘Ulûm al-Qur’ân al-Karîm, Damaskus: Matba’ah al-Salb, 1993, hal. 154.
Ratnah Umar, "Qira’at Al-Qur’an: Makna dan Latar Belakang Timbulnya Perbedaan Qira’at", dalam Jurnal al-Asas, Vol. III, No. 2 Tahun 2019, hal. 39-40.
Widayati Romlah, Implikasi Qirâ’ât Shadzdzah Terhadap Istinbâth Hukum, Tangerang Selatan: Transpustaka, 2015, hal. 7.
Al-Fauzan Saleh, Fiqih Sehari-hari terj. Abdul Hayyie al-Kattani,Ahmad Ikhwani dan Budiman Mushtofa, Jakarta: Gema Insani Press, 2005, Cet. 1, hal. 58.
Zuhaili, Wahbah,Tafsîr Al-Munîr: Akidah, Syari’ah, Manhaj, Juz 1 & 2 terj. Abdul Hayyie Al-Kattani, Jakarta: Gama Insani, 2016, Jilid. 1. 115.