Layanan Bimbingan Dan Konseling Di SMA Negeri 1 Karawang
Main Article Content
Bimbingan dan Konseling
Mawar Setiawati
Muhammad Fadlan Fadilla
Muhammad Rivaldi
Nur Aini Farida
Studi ini mempunyai tujuan untuk mengkaji pelaksanaan dari layanan Bimbingan dan Konseling. (BK) di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Karawang dari perspektif guru Bimbingan Konseling dan siswa. Metode riset ini menerapkan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif, dengan cara pengumpulan data yang dilakukan melalui pengamatan langsung serta wawancara setengah strterhadap satu orang guru BK dan dua orang siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Layanan BK telah diimplementasikan secara terstruktur meliputi bimbingan klasikal, kelompok, konseling individu, dan asesmen; (2) Fokus utama layanan adalah konsultasi karier dan perencanaan studi lanjut, sesuai dengan kebutuhan mayoritas siswa yang berencana melanjutkan ke perguruan tinggi; (3) Kolaborasi antara guru BK, wali kelas, guru mata pelajaran, dan orang tua menjadi faktor pendukung utama; (4) Tantangan utama meliputi keterbatasan SDM guru BK yang hanya berjumlah satu orang untuk melayani seluruh siswa, serta masih adanya stigma di kalangan siswa bahwa BK hanya untuk siswa bermasalah. Penelitian ini merekomendasikan perlunya penambahan guru BK dan sosialisasi berkelanjutan tentang peran BK yang sesungguhnya.
Abidin, A. M. (2023). Bimbingan dan konseling komprehensif: Teori dan praktik di sekolah menengah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Amini, N., & Sari, D. P. (2022). Kolaborasi guru mata pelajaran dan guru bimbingan konseling dalam mengatasi masalah belajar siswa. Jurnal Edukasi, 15(2), 45–56.
Corey, G. (2017). Theory and practice of counseling and psychotherapy (10th ed.). Boston, MA: Cengage Learning.
Depdiknas. (2020). Permendikbud Nomor 111 Tahun 2020 tentang Bimbingan dan Konseling pada Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Fadhilah, R. (2024). Efektivitas layanan bimbingan klasikal untuk meningkatkan perencanaan karier siswa SMA. Jurnal Psikologi Pendidikan dan Konseling, 10(1), 78–92.
Herdiansyah, H. (2021). Metode penelitian kualitatif untuk ilmu psikologi. Jakarta: Salemba Humanika.
Nastiti, D., & Mappiare-AT, A. (2020). Model konseling kolaboratif guru BK dan wali kelas untuk meningkatkan keterampilan sosial siswa. Jurnal Bimbingan dan Konseling, 10(1), 1–8.
Prayitno. (2019). Dasar-dasar bimbingan dan konseling. Jakarta: Rineka Cipta.
Sari, B. P., & Neviyarni, S. (2023). Persepsi siswa terhadap layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Indonesian Journal of Educational Counseling, 7(1), 45–56.
Setyawan, C. E., & Utami, F. D. (2023). Analisis kebutuhan layanan bimbingan dan konseling di sekolah menengah atas negeri. Jurnal Kajian Bimbingan dan Konseling, 8(1), 22–34.
Sugiyono. (2022). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Syah, M. N. S. (2018). Psikologi pendidikan dengan pendekatan baru. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Prayitno & Amti, E. (2013). Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.
Muhammad Fadlan Fadilla, Universitas Singaperbangsa Karawang
Studi ini mempunyai tujuan untuk mengkaji pelaksanaan dari layanan Bimbingan dan Konseling. (BK) di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Karawang dari perspektif guru Bimbingan Konseling dan siswa. Metode riset ini menerapkan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif, dengan cara pengumpulan data yang dilakukan melalui pengamatan langsung serta wawancara setengah strterhadap satu orang guru BK dan dua orang siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Layanan BK telah diimplementasikan secara terstruktur meliputi bimbingan klasikal, kelompok, konseling individu, dan asesmen; (2) Fokus utama layanan adalah konsultasi karier dan perencanaan studi lanjut, sesuai dengan kebutuhan mayoritas siswa yang berencana melanjutkan ke perguruan tinggi; (3) Kolaborasi antara guru BK, wali kelas, guru mata pelajaran, dan orang tua menjadi faktor pendukung utama; (4) Tantangan utama meliputi keterbatasan SDM guru BK yang hanya berjumlah satu orang untuk melayani seluruh siswa, serta masih adanya stigma di kalangan siswa bahwa BK hanya untuk siswa bermasalah. Penelitian ini merekomendasikan perlunya penambahan guru BK dan sosialisasi berkelanjutan tentang peran BK yang sesungguhnya.













