Isolasi Dan Identifikasi Mikroorganisme Pada Terasi Udang (Acetes sp) Tanjung Jabung Timur
Main Article Content
Mawar Indah Purnama
Terasi udang (Acetes sp.) merupakan produk fermentasi tradisional yang populer di Indonesia. Kualitasnya sangat dipengaruhi oleh proses fermentasi dan mikroorganisme yang berperan di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi mikroorganisme pada sampel terasi udang dari Tanjung Jabung Timur guna memahami peran potensinya dalam proses fermentasi dan pengembangan produk pangan fungsional. Penelitian ini menggunakan metode sebar (spread plate) pada media Nutrient Agar (NA) untuk mengisolasi mikroorganisme. Sampel terasi diencerkan secara bertingkat hingga 10⁻³, dan setelah diinkubasi selama 24-48 jam, koloni yang tumbuh diamati morfologinya. Identifikasi awal dilakukan dengan metode pewarnaan Gram dan pengamatan di bawah mikroskop. Hasil penelitian menunjukkan adanya pertumbuhan koloni yang beragam. Berdasarkan pengamatan morfologi dan pewarnaan Gram, ditemukan tiga jenis koloni dominan: bakteri Gram positif berbentuk kokus, bakteri Gram negatif berbentuk batang, dan bakteri Gram positif berbentuk batang. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa bakteri Gram positif kokus diduga termasuk dalam genus Staphylococcus, sementara bakteri Gram positif batang sesuai dengan karakteristik genus Bacillus. Adanya bakteri Gram negatif berbentuk batang diduga berasal dari genus Pseudomonas. Kesimpulannya, terasi udang dari Tanjung Jabung Timur memiliki mikroflora yang heterogen, terdiri dari bakteri yang berperan dalam fermentasi (Bacillus dan Staphylococcus) serta bakteri yang berpotensi menjadi kontaminan (Pseudomonas). Keberagaman ini menunjukkan bahwa proses fermentasi terasi bersifat spontan dan dipengaruhi oleh kondisi higienitas. Penelitian ini menjadi data awal penting untuk studi lanjutan, seperti uji biokimia dan identifikasi molekuler, guna mengoptimalkan peran mikroorganisme fungsional dalam industri terasi
Hizrah, N., et al. (2023). Seleksi bakteri asam laktat (BAL) penghasil eksopolisakarida yang diperoleh dari terasi udang rebon (Mysis relicta) di Desa Perlis Kec. Berandan Barat Kab. Langkat. Bioscience Journal (BBST), 6(1), 648–654.
Helmi, H., et al. (2022). Uji kualitas bakteri pada terasi Toboali dengan lama fermentasi yang berbeda. Ekotonia: Jurnal Penelitian Biologi, Botani, Zoologi dan Mikrobiologi, 7(1), 77–84.
Kadir, M. R. S., et al. (2020). Mutu terasi udang rebon (Acetes indicus) yang diperdagangkan di beberapa pasar Kota Kendari. Jurnal Fish Protech, 3(2), 207–213.
Lubis, S. S., et al. (2024). Pemberdayaan masyarakat dalam upaya meningkatkan ekonomi masyarakat melalui usaha rumah tangga (home industry) terasi udang. El-Mal: Jurnal Kajian Ekonomi & Bisnis Islam, 5(3), 1938–1956.
Mawardika, H., et al. (2023). Karakterisasi dan uji aktivitas antimikroba bakteri kandidat probiotik dari terasi udang rebon. Bioscientist: Jurnal Ilmiah Biologi, 1(2), 1216–1226.
Murti, R. W., et al. (2021). Pengaruh perbedaan konsentrasi garam terhadap asam glutamat terasi udang rebon (Acetes sp.). Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia, 24(1), 50–59.
Mutamimah, D., et al. (2023). Fermentasi perikanan tradisional terasi rebon (Acetes sp.) pada UMKM famili dan poklahsar Cahaya Jaya Kecamatan Muncar, Banyuwangi. Jurnal Ilmu Perikanan dan Kelautan, 5(1), 83–88.
Rahmatullah, W., et al. (2021). Identifikasi bakteri udara menggunakan teknik pewarnaan Gram. Jurnal Ilmu Kesehatan Bhakti Setya Medika, 6(2), 83–91.
Sumardianto, et al. (2022). Karakteristik terasi udang rebon (Acetes sp.) dengan penambahan pewarna alami ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L.) yang berbeda. Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia, 25(3), 494–503.













