Kearifan Lokal Dan Multikulturalisme Dalam Dakwah Nusantara: Revitalisasi Nilai Lokal Dalam Merespons Globalisasi
Main Article Content
Edwin Pebriyanto
Ali Hasan Siswanto
Dalam konteks masyarakat yang sangat majemuk secara etnis, budaya, dan agama, dakwah menghadapi tantangan besar dari arus globalisasi yang cenderung menyeragamkan nilai-nilai keagamaan dan mengikis tradisi lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana nilai-nilai kearifan lokal diintegrasikan ke dalam praktik dakwah guna membentuk pendekatan yang lebih inklusif, kontekstual, dan efektif dalam menjangkau masyarakat multikultur. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan metode studi lapangan, penelitian dilakukan di beberapa wilayah yang memiliki keragaman budaya tinggi, seperti Bali dan Lombok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dakwah yang memanfaatkan unsur budaya local seperti bahasa daerah, simbol adat, dan seni tradisional mampu memperkuat kohesi sosial, memperluas jangkauan dakwah, dan membentuk identitas keislaman yang ramah terhadap keberagaman. Di sisi lain, muncul pula tantangan dari kelompok puritan yang menolak pendekatan budaya lokal dalam dakwah. Oleh karena itu, revitalisasi nilai-nilai lokal dalam dakwah tidak hanya berfungsi sebagai strategi komunikasi, tetapi juga sebagai upaya dekolonisasi cara beragama yang terlalu sentralistik dan tidak kontekstual. Artikel ini merekomendasikan pentingnya penguatan kapasitas dai lokal, dukungan kebijakan keagamaan yang multikultural, serta pendekatan dakwah berbasis komunitas untuk menjaga harmoni sosial di tengah dinamika global.
Al Qurtuby, Sumanto. Agama dan Kepercayaan Nusantara. Semarang: Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Press, 2019.
Diaz Supandi, Muhammad, Muhammad Dhiyaulkasyfi Sulaksana, dan Gigih Bekti Saputro. “Pancasila dan Islam: Membangun Identitas Nasional di Era Globalisasi.” Jurnal Wawasan Nusantara 1, no. 1 (2024): 1–15. https://jwn.staiku.ac.id/index.php/sk/article/view/1.
Halim, Abdul. “Islam, Lokalitas, dan Kebhinekaan: Menimbang Ulang Relasi Islam dan Budaya Lokal di Indonesia.” Dalam Islam Lokalitas dan Kebhinekaan, diedit oleh Abdul Halim, 15–17. Surabaya: UIN Sunan Ampel Press, 2020.
“Islam dan Seni di Indonesia.” Santri Digital, 29 Mei 2025. https://santridigital.id/islam-dan-seni-di-indonesia/.
“Itu Wayang, Seni dan Budaya Bernuansa Islami.” Universitas Islam An Nur Lampung, 30 Mei 2025. https://an nur.ac.id/seni dan budaya yang bernuansa islami/.
“Nusantara Cultural Da‘wah: Rekonstruksi Gerakan Dakwah Muhammadiyah.” Suara Muhammadiyah, diakses 26 Mei 2025. https://www.suaramuhammadiyah.id/read/dakwah kultural rekonstruksi gerakan dakwah muhammadiyah.
Nifiiraaa16. “Peran Ulama Nusantara dalam Membentuk Identitas Keislaman Indonesia.” Kompasiana, 26 April 2024. https://www.kompasiana.com/nifiiraaa16/670de242ed641562633147b2/peran ulama nusantara dalam membentuk identitas keislaman indonesia.
Puspitasari, Isma, dan Alfri Ultriasratri. “Integration of Daʾwah and Local Culture: An Analysis of the Ritual of Wiwit Mbako in Temanggung.” Jurnal Dakwah 24, no. 2 (2023): 120–132. https://doi.org/10.14421/jd.2023.24202. ²
Romli, Khomsahrial. “Akulturasi dan Asimilasi dalam Konteks Interaksi Islam dan Budaya Lokal.” Jurnal Al Bayan 21, no. 30 (2019): 45–47.
Suparta, Adang, dan Nur Hidayat. “Penguatan Dakwah Multikultural dalam Masyarakat Plural: Studi pada Lembaga Dakwah Kampus.” Komunika: Jurnal Dakwah dan Komunikasi 13, no. 1 (2021): 51–68. https://doi.org/10.24090/komunika.v13i1.4743.
Wahyudi AR, Nirwan, Nurhidayat M. Said, dan Haidir Fitra Siagian. “Digitalisasi Dakwah Berbasis Kearifan Lokal.” AL MUTSLA: Jurnal Ilmu Ilmu Keislaman 5, no. 2 (2023): 1–15. https://doi.org/10.46870/jstain.v5i2.637.
“Blangikhan, Tradisi Masyarakat Lampung Sambut Bulan Suci Ramadan.” NU Online, 1 Maret 2025. https://nu.or.id/daerah/blangikhan tradisi masyarakat lampung sambut bulan suci ramadan jHaMX.
Wikipedia contributors. “Islam Nusantara.” Wikipedia: The Free Encyclopedia. Versi terakhir 26 Mei 2025. https://en.wikipedia.org/wiki/Islam_Nusantara.













