Sampelong Sebagai Kesenian Tradisional Minangkabau di Payakumbuh
Main Article Content
Yandra Yulisman
Muhammad Zulfahmi
Sampelong merupakan salah satu kesenian tradisional masyarakat Minangkabau yang berkembang di daerah Payakumbuh, Sumatera Barat. Kesenian ini memiliki ciri khas berupa penggunaan alat musik tiup bambu yang dimainkan secara sederhana namun mengandung nilai estetika, sosial, dan spiritual dalam kehidupan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk kesenian Sampelong, fungsi sosial budaya, serta keberadaannya di tengah perkembangan zaman modern. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka, observasi, dan wawancara dengan pelaku seni tradisional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sampelong tidak hanya berfungsi sebagai hiburan masyarakat, tetapi juga menjadi media ekspresi budaya dan identitas lokal masyarakat Minangkabau di Payakumbuh. Keberadaan Sampelong saat ini mulai mengalami penurunan akibat kurangnya regenerasi dan pengaruh budaya modern, namun masih dipertahankan oleh sebagian masyarakat sebagai warisan budaya tradisional.
Hakim, Uswatul., Harisnal Hadi., & Hengki Armez Hidayat. 2025. “Pewarisan Musik Tradisi Sampelong Bentuk Ensambel kepada Siswa SMA Negeri 1 Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota.” Jurnal Pengabdian Seni.
Chaniago, M. Chevin. 2025. “Eksplorasi Estetika Sampelong Minangkabau: Antara Hiburan dan Mistisisme.” In Laboratory Journal: Jurnal Seni Pertunjukan dan Seni Rupa.
Marzam. 2008. “Basirompak: Manifestasi Dendam Masyarakat Taeh Baruah, Payakumbuh, Sumatera Barat.” JATI - Journal of Southeast Asian Studies.
Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Navis, A.A. 1984. Alam Terkembang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Jakarta: Grafiti Pers.
Merriam, Alan P. 1964. The Anthropology of Music. Chicago: Northwestern University Press.
Sedyawati, Edi. 1981. Pertumbuhan Seni Pertunjukan. Jakarta: Sinar Harapan.
Dharsono. 2007. Estetika. Bandung: Rekayasa Sains.













